Tak ada hal yang jelas untuk alasan
mengapa rasa kagum itu ada kepada makhluk ciptaanNya.
Entah sejak kapan saya mulai suka dengan anak-anak dan
kakek-kakek. Mereka adalah satu dari cukup banyak yang menjadi motivator saya.
Kenapa harus anak-anak dan kakek-kakek? Terlalu banyak alasan dan jawaban yang
tak pasti untuk pertanyaan itu, tapi yang bisa saya analogikan adalah seperti
alfa dan omega, awal dan akhir, seorang pemula dan yang seorang yang hampir
selesai mengerjakan sebuah proses, dan mungkin itulah beberapa dari banyak
alasan kenapa saya menjadikan mereka salah satu motivator saya.
| anak-anak SD barasa' kec. Bajeng kab. Gowa |
Anak-anak. Saya suka melihat mereka
bermain, menangis, bercanda gurau bersama teman-temannya, menangis lagi,
bermain lagi, begitulah seterusnya. Pernah beberapa kali saya semobil dengan
beberapa anak-anak yang kerjanya tiap hari bukan belajar disekolah tapi mereka
harus belajar mencari uang dijalan. Miris kelihatannya yah, tapi apa yang bisa
saya lihat dari raut muka mereka? Tidak ada kemalangan karena nasib mereka yang
mungkin tidak jauh lebih baik dari anak-anak diluar sana yang masih terlalu
dini untuk mencari uang, tidak ada kesusahan karena beban yang berat sedang
menimpa mereka tentang ayah ibunya yang entah dimana, tidak ada kesedihan
karena mereka tak bisa seperti anak-anak biasanya yang pergi sekolah untuk
menuntut ilmu dan bermain-main dengan teman mereka disekolah, tapi yang ada
adalah kebahagiaan, tak tahu mengapa hanya itu yang saya tangkap dari hampir 40
menit kami di mobil yang sama. Mungkin dari kacamata orang lain mereka patut
dikasihani dengan apa yang harus mereka alami dikehidupan ini, tapi entah
mengapa mereka punya cara sendiri untuk bahagia mereka. Begitulah anak-anak
mereka memang nampak bersedih tapi setelahnya mereka akan bahagia lagi, tertawa
lagi seakan semua masalah yang ada memang benar-benar tak ada. Itulah satu hal
yang saya suka dari anak-anak. Mereka simple dan tak pernah merumitkan segala
hal yang mungkin masih bisa untuk disederhanakan. Mungkin disalah satu ayat
alkitab mengajarkan kita untuk belajar dari semut, sepertinya saya harus
menambahkan satu lagi “belajarlah dari anak-anak”. Kenapa? Mereka membantu kita
untuk bersyukur dalam banyak hal. Kebahagiaan dalam hal kecil misalnya.
| dua orang kakek didusun barasa' saat PKL |
Kakek – kakek. Yaa seorang usila,
sudah melewati banyak hal dikehidupan ini, sudah melewati banyak proses yang telah
terjadi, sudah tahu banyak hal apa dan tidak boleh dilakukan, sudah belajar
banyak hal, dan hampir mendekati finish. Tapi mereka tetap berjuang untuk
sampai finish itu, meski mereka tahu banyak hal yang berubah dalam sel-sel
tubuhnya, tetap mereka berjalan kearah finish itu dengan tidak membuang waktu
dan kesempatan percuma begitu saja. Sudah banyak sejarah yang ia torehkan
disepanjang hidupnya, suka duka hampir semua ia alami silih berganti, sosok
pemuda yang telah menjadi suami terbaik dan ayah terbaik, hingga akhirnya
menyandang predikat yakni kakek ter ter ter (sengaja pake banyak ter supaya
kelihatan ter nya) hebat disepanjang masa, memiliki cucu dan bahan cicit yang
banyak adalah satu kesuksesannya menjadi seorang kakek. Sayangnya saya tidak
pernah mengalami bagaimana kasih sayang seorang kakek, baik dari ibu dan ayah
saya. Tapi saya masih tetap punya kakek-kakek terhebat diluar sana (senyum
merekah selebar-lebarnya). Mereka meski tak sedarah tetap mengajarkan saya
banyak hal, tentang baik buruk, perjuangan dan pengorbanan, komitmen dan
konsisten. Tetap sayangi mereka, tetap menjadikan dia yang terhebat meski
segala sistem-sistem ditubuhnya berdegenerasi tap tidak dengan semangat
juangnya, mereka yang menyadarkan kita bahwa laki-laki setia dan peduli kepada
keluarga kecilnya itu ada,dan selalu ada.