Kamis, 04 April 2013

dua subjek indah yang nyata



Tak ada hal yang jelas untuk alasan mengapa rasa kagum itu ada kepada makhluk ciptaanNya.

Entah sejak kapan saya mulai suka dengan anak-anak dan kakek-kakek. Mereka adalah satu dari cukup banyak yang menjadi motivator saya. Kenapa harus anak-anak dan kakek-kakek? Terlalu banyak alasan dan jawaban yang tak pasti untuk pertanyaan itu, tapi yang bisa saya analogikan adalah seperti alfa dan omega, awal dan akhir, seorang pemula dan yang seorang yang hampir selesai mengerjakan sebuah proses, dan mungkin itulah beberapa dari banyak alasan kenapa saya menjadikan mereka salah satu motivator saya.

anak-anak SD barasa' kec. Bajeng kab. Gowa
Anak-anak. Saya suka melihat mereka bermain, menangis, bercanda gurau bersama teman-temannya, menangis lagi, bermain lagi, begitulah seterusnya. Pernah beberapa kali saya semobil dengan beberapa anak-anak yang kerjanya tiap hari bukan belajar disekolah tapi mereka harus belajar mencari uang dijalan. Miris kelihatannya yah, tapi apa yang bisa saya lihat dari raut muka mereka? Tidak ada kemalangan karena nasib mereka yang mungkin tidak jauh lebih baik dari anak-anak diluar sana yang masih terlalu dini untuk mencari uang, tidak ada kesusahan karena beban yang berat sedang menimpa mereka tentang ayah ibunya yang entah dimana, tidak ada kesedihan karena mereka tak bisa seperti anak-anak biasanya yang pergi sekolah untuk menuntut ilmu dan bermain-main dengan teman mereka disekolah, tapi yang ada adalah kebahagiaan, tak tahu mengapa hanya itu yang saya tangkap dari hampir 40 menit kami di mobil yang sama. Mungkin dari kacamata orang lain mereka patut dikasihani dengan apa yang harus mereka alami dikehidupan ini, tapi entah mengapa mereka punya cara sendiri untuk bahagia mereka. Begitulah anak-anak mereka memang nampak bersedih tapi setelahnya mereka akan bahagia lagi, tertawa lagi seakan semua masalah yang ada memang benar-benar tak ada. Itulah satu hal yang saya suka dari anak-anak. Mereka simple dan tak pernah merumitkan segala hal yang mungkin masih bisa untuk disederhanakan. Mungkin disalah satu ayat alkitab mengajarkan kita untuk belajar dari semut, sepertinya saya harus menambahkan satu lagi “belajarlah dari anak-anak”. Kenapa? Mereka membantu kita untuk bersyukur dalam banyak hal. Kebahagiaan dalam hal kecil misalnya.

dua orang kakek didusun barasa' saat PKL
Kakek – kakek. Yaa seorang usila, sudah melewati banyak hal dikehidupan ini, sudah melewati banyak proses yang telah terjadi, sudah tahu banyak hal apa dan tidak boleh dilakukan, sudah belajar banyak hal, dan hampir mendekati finish. Tapi mereka tetap berjuang untuk sampai finish itu, meski mereka tahu banyak hal yang berubah dalam sel-sel tubuhnya, tetap mereka berjalan kearah finish itu dengan tidak membuang waktu dan kesempatan percuma begitu saja. Sudah banyak sejarah yang ia torehkan disepanjang hidupnya, suka duka hampir semua ia alami silih berganti, sosok pemuda yang telah menjadi suami terbaik dan ayah terbaik, hingga akhirnya menyandang predikat yakni kakek ter ter ter (sengaja pake banyak ter supaya kelihatan ter nya) hebat disepanjang masa, memiliki cucu dan bahan cicit yang banyak adalah satu kesuksesannya menjadi seorang kakek. Sayangnya saya tidak pernah mengalami bagaimana kasih sayang seorang kakek, baik dari ibu dan ayah saya. Tapi saya masih tetap punya kakek-kakek terhebat diluar sana (senyum merekah selebar-lebarnya). Mereka meski tak sedarah tetap mengajarkan saya banyak hal, tentang baik buruk, perjuangan dan pengorbanan, komitmen dan konsisten. Tetap sayangi mereka, tetap menjadikan dia yang terhebat meski segala sistem-sistem ditubuhnya berdegenerasi tap tidak dengan semangat juangnya, mereka yang menyadarkan kita bahwa laki-laki setia dan peduli kepada keluarga kecilnya itu ada,dan selalu ada.

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar