Aku tepat duduk di teras rumah mendengar
playlist lagu yang sering kuputar beberapa minggu ini. Semua rasa campur aduk
dalam keheningan ini, mencoba mengingat-ingat satu kisah yang dulu pernah
terjadi antara Aku Kamu dan Dia. Kupejamkan mata sejenak mencari kisah lain
yang bisa kuingat sebagai wujud pelarian ku atas kisah itu, ternyata tidak..
ternyata aku hanya bisa larut dalam kesedihanku lagi dan lagi. Ini kegiatan
disore hari yang terlalu sering kulakukan semenjak kejadian itu, mendengar
playlist lagu yang telah kupilih dari beberapa track lagu di HP ku, mengingat-ingat
semua cerita tentang Kita dan kalian, dan hal-hal bodoh lainnya menurutku. Aku
menikmatinya dan sangat menikmatinya.
Sewaktu SMA aku sangat senang jika hujan turun,
kurasa hujan itu memberi kesejukan hati ku dari segala penat yang berkecamuk
karena beberapa pelajaran yang buat kepala ku jadi mumet semumet-mumet nya,
jika hujan itu turun sepulang sekolah aku menikmatinya bersama mereka
sahabat-sahabatku dan berteduh ditempat persinggahan kami, tak ada suara dan
cerita diantara kami hanya suara gemercik bunyi hujan yang turun membasahi
pepohonan, daun dan jatuh ketanah. Sama seperti saat kamu memulai sebuah
pembicaran tentang satu hal yang tak pernah kubayangkan akan keluar dari
mulutmu, seorang yang introvert dan cenderung menjauh dari keramaian kelas yang
bising karena guru yang bersangkutan tak bisa masuk atau berhalangan, karena
para siswi-siswi dikelas yang cerita berbagai fashion yang menjadi trendy saat
itu, atau para siswa-siswa yang saling bercerita tentang game baru yang mereka
dapatkan dari toko kaset yang sering mereka kunjungi. Kita tak pernah sedekat
saat itu tak pernah bertegur sapa hanya bisa berbagi senyum sekiranya, hanya karena
kita punya kebiasaan yang berbeda, aku yang lebih suka keluar kelas bersama
teman-temanku untuk menghirup udara bebas dan duduk dibawah pohon sambil
bernyanyi-nyanyi layaknya para penyanyi profesional, dan kamu yang lebih
cenderung duduk dikelas untuk membaca satu buku tebal yang tak pernah habis
kamu baca, atau memilih untuk ke perpustakaan karena suasana kelas yang tak
mendukung. Hingga akhirnya kita dipertemukan dalam satu kegiatan kesenian yang
membuat kita untuk selalu saling bertegur sapa, aku tak menyangka kita akan
satu kepanitiaan dibidang ini sampai aku mendengar cerita dari teman-temanku
bahwa kamu sangat pandai dalam bermain musik sehingga ketua panitia pun menyarankan
kamu untuk masuk dibidang itu, satu bidang dimana aku yang menjadi
koordinatornya.
Ini menjadi awal kebersamaan kita, awal aku
mengenal mu secara dekat, awal dimana aku mengenal beberapa kesamaan kita dan
awal kekaguman ku padamu. Suatu hari disaat kegiatan kesenian itu telah selesai
dan berjalan sesuai rencana, atas keberhasilan itu ketua panitia menyarankan
untuk pembubaran panitia diadakan di luar sekolah dan mengambil waktu luang
yakni disaat libur sekolah, pembubaran itu diadakan disebuah pantai terdekat
atas saran dari guru kesenian kami yang takut kalau-kalau orang tua kami tak
mengizinkan jika harus keluar terlalu jauh. Di malam terakhir acara pembubaran
itu penyelenggara acara meminta setiap bidang dalam kepanitiaan untuk
menampilkan satu penampilan, tibalah bidang yang aku koordinatori untuk maju, aku
tidak tahu apa yang aku persembahkan ini cukup diterima sebagai satu penampilan
yang bagus atau sebaliknya, kamu memulai dengan petikan gitar akustik mu dan
aku memulai menyanyikan satu lagu dari Ten2five yang berjudul “i will fly” ,
menyenandungkan lagu itu seakan membuatku untuk memutar kembali memory saat
kita bersama-sama mengerjakan pekerjaan kepanitiaan kita, saling bertukar pikir
apa yang pas untuk penampilan ini dan itu, saling melempar senyum tanpa maksud
saat ide muncul dari otak kita masing-masing. Dan aku larut dalam perasaan itu
tanpa sadar kalau aku telah memulai satu fase dihidupku.
Didalam kamar alunan musik dari christina pery
dengan lagunya yang berjudul “a thousand year” menemaniku melihat foto-foto
saat acara kegiatan kesenian berlangsung sampai saat pembubaran, satu yang
kucari dari banyaknya foto-foto itu adalah saat malam terakhir pembubaran
panitia, saat kamu dan aku bersama-sama menampilkan satu penampilan mewakili
bidang kepanitiaan kita, kerjaan ku malam itu adalah memandangi beberapa foto itu
menzoom out atau zoom in foto-foto itu sambil senyum-senyum sendiri, aku
bahagia tak terkira dan mengambil handphone ku sambil mencari nama di kontak
handphone ku dan menekan tanda panggil, malam itu aku bercerita panjang lebar
sampai-sampai pipi ku memerah saat aku menceritakan apa yang telah terjadi, aku
tak menyangka akan merasakan itu kataku pada sahabatku malam itu, katanya dia
pun bahagia tapi dia menyarankan ku untuk tidak membawa perasaan ini terlalu
jauh yang hanya buatku kecewa pada ekspektasi yang terlalu tinggi, aku tahu
kekhawatirannya. Dia sahabatku sejak SMP teman berbagi cerita, selalu bersama
dengannya tak membuatku jenuh,itu karena kami punya banyak petualangan yang
telah kami lewati bersama, sifanya hampir sama dengan orang yang kusukai saat
ini, dia lebih senang berdiam diri disatu tempat untuk menghabiskan waktu
senggangnya dari pada harus ikut dalam satu kumpulan organisasi yang menurutnya
akan menunda waktu belajarnya, tapi karena perbedaan itulah yang buatku betah
bersamanya hingga saat ini.
Sampai pada saat kamu menyatakan perasaanmu
padaku dan memintaku untuk menjalin satu hubungan layaknya dua insan yang
bersatu, saat itu hujan turun dan aku berkecamuk dengan segala perasaanku dan
kita diam terlalu lama, aku tak menyangka bahwa rasa kagum ku kepadamu selama
ini berbuah hasil yang baik, aku yang mengira selama ini perasaanku akan pupus
karena sikapmu yang dingin dan tak terlalu peduli meski kita sempat melalui
beberapa minggu bersama akhirnya tertawa lepas karena pernyataan mu hari ini,
dan tanpa menunggu terlalu lama aku menerima mu, membuka pintu hatiku
selebar-lebarnya dan mempersilahkanmu masuk.
Suatu ketika kamu jujur tentang apa yang
membebani kamu selama ini, yang membuat kamu menjadi sangat berubah kepadaku
setelah apa yang telah kita lalui hampir setengah tahun, dan keputusanmu untuk
berpisah membuatku sangat hancur. Pilihanmu jadi beban berat dipundak ku
terlebih saat tahu alasan bahwa kamu mencintai orang lain. Aku tak mengerti
jika kekuranganku karena tak bisa membahagiakan mu yang membuatmu harus pergi
seperti ini. Ini sakit dan sangat sakit bahwa mengingat aku yang terlalu
menaruh harapan terlalu tinggi kepadamu, bahwa aku tak pernah memintamu untuk
mencintaiku lebih dari aku mencintaimu, dan bahwa kamu tak pernah benar-benar
memilihku untuk menjadi orang yang kamu cintai.
Kembali mengingat-ingat semuanya membuatku tak
sadar kalau aku tlah menangisinya cukup lama, dan lebih tepatnya menangisi
kebodohanku yang terlalu lama untuk mengingatmu. Kembali ku dengar lagu-lagu yang
sedari tadi hanya mampu bersenandung tanpa pendengar yang jelas. Lagu-lagu yang
buatku selalu mengingat tentang mu. Melihat ada telfon yang masuk di handphone
ku, jelas itu nomor baru dan aku cukup mengenal nomor ini, yah ini nomor kamu
yang sudah sejak lama kuhapus hanya karena aku berharap bisa dengan mudahnya
melupakanmu, ternyata tidak, ternyata sulit. Sejenak ada keraguanku untuk
mengangkatnya tapi gerakan tanganku tak mampu berkompromi dan langsung menekan
tombol terima, ada halo yang kudengar dari suara yang setahun lalu sering
kudengar, suara khas seorang kamu yang tak pernah aku lupa, cukup lama kita
bercerita sampai akhirnya aku mengucapkan goodbye.
Senja ini cukup indah untuk aku nikmati di
pesisir pantai indah ini. Hanya deru ombak yang bisa kudengar menemaniku saat
ini. Kini aku telah sadar akan arti pertemuan hingga harus berpisah, kini
akupun sadar bahwa harapanku harus pada kadar yang tepat agar aku tak terlalu
jauh untuk jatuh dan merasakan sakit seperti dulu, kini aku sadar bahwa ketika
aku belajar untuk mencintai seseorang disaat itu pula aku harus belajar untuk
melepaskan seseorang. Bahwa disetiap hello akan selalu ada goodbye setelahnya.
Kamu yang telah menjadi kenangan buatku, terimakasih untuk satu pelajaran
penting ini. Kini aku mampu melepaskan mu, melepaskan genggamanku dari kisah
tentangmu. Aku mencari bahagia yang jelas sekarang, tak lagi semu seperti dulu
saat bersama mu. Kini aku mampu menerima mu sebagai seorang pendamping dari
dia. Sahabatku. Aku berjalan menuju altar berdampingan dengan sahabat terbaik
ku, mengantarkan dia menuju kamu, menuju kekebahagiaan terindah kamu saat ini
dan kuharap selamanya bersama dia. S A H A B A T K U.
Dan aku menyaksikan ikrar janji kalian
dihadapan Tuhan sangat bahagia,bagaimana tidak, ada seseorang yang menunggu ku
disana, tepat didekat Tuhan untuk kutemukan pada waktunya.
0 komentar:
Posting Komentar