Kamis, 14 Maret 2013

Karena Hujan membawaku pada Senja ini...



Aku tepat duduk di teras rumah mendengar playlist lagu yang sering kuputar beberapa minggu ini. Semua rasa campur aduk dalam keheningan ini, mencoba mengingat-ingat satu kisah yang dulu pernah terjadi antara Aku Kamu dan Dia. Kupejamkan mata sejenak mencari kisah lain yang bisa kuingat sebagai wujud pelarian ku atas kisah itu, ternyata tidak.. ternyata aku hanya bisa larut dalam kesedihanku lagi dan lagi. Ini kegiatan disore hari yang terlalu sering kulakukan semenjak kejadian itu, mendengar playlist lagu yang telah kupilih dari beberapa track lagu di HP ku, mengingat-ingat semua cerita tentang Kita dan kalian, dan hal-hal bodoh lainnya menurutku. Aku menikmatinya dan sangat menikmatinya.
Sewaktu SMA aku sangat senang jika hujan turun, kurasa hujan itu memberi kesejukan hati ku dari segala penat yang berkecamuk karena beberapa pelajaran yang buat kepala ku jadi mumet semumet-mumet nya, jika hujan itu turun sepulang sekolah aku menikmatinya bersama mereka sahabat-sahabatku dan berteduh ditempat persinggahan kami, tak ada suara dan cerita diantara kami hanya suara gemercik bunyi hujan yang turun membasahi pepohonan, daun dan jatuh ketanah. Sama seperti saat kamu memulai sebuah pembicaran tentang satu hal yang tak pernah kubayangkan akan keluar dari mulutmu, seorang yang introvert dan cenderung menjauh dari keramaian kelas yang bising karena guru yang bersangkutan tak bisa masuk atau berhalangan, karena para siswi-siswi dikelas yang cerita berbagai fashion yang menjadi trendy saat itu, atau para siswa-siswa yang saling bercerita tentang game baru yang mereka dapatkan dari toko kaset yang sering mereka kunjungi. Kita tak pernah sedekat saat itu tak pernah bertegur sapa hanya bisa berbagi senyum sekiranya, hanya karena kita punya kebiasaan yang berbeda, aku yang lebih suka keluar kelas bersama teman-temanku untuk menghirup udara bebas dan duduk dibawah pohon sambil bernyanyi-nyanyi layaknya para penyanyi profesional, dan kamu yang lebih cenderung duduk dikelas untuk membaca satu buku tebal yang tak pernah habis kamu baca, atau memilih untuk ke perpustakaan karena suasana kelas yang tak mendukung. Hingga akhirnya kita dipertemukan dalam satu kegiatan kesenian yang membuat kita untuk selalu saling bertegur sapa, aku tak menyangka kita akan satu kepanitiaan dibidang ini sampai aku mendengar cerita dari teman-temanku bahwa kamu sangat pandai dalam bermain musik sehingga ketua panitia pun menyarankan kamu untuk masuk dibidang itu, satu bidang dimana aku yang menjadi koordinatornya.
Ini menjadi awal kebersamaan kita, awal aku mengenal mu secara dekat, awal dimana aku mengenal beberapa kesamaan kita dan awal kekaguman ku padamu. Suatu hari disaat kegiatan kesenian itu telah selesai dan berjalan sesuai rencana, atas keberhasilan itu ketua panitia menyarankan untuk pembubaran panitia diadakan di luar sekolah dan mengambil waktu luang yakni disaat libur sekolah, pembubaran itu diadakan disebuah pantai terdekat atas saran dari guru kesenian kami yang takut kalau-kalau orang tua kami tak mengizinkan jika harus keluar terlalu jauh. Di malam terakhir acara pembubaran itu penyelenggara acara meminta setiap bidang dalam kepanitiaan untuk menampilkan satu penampilan, tibalah bidang yang aku koordinatori untuk maju, aku tidak tahu apa yang aku persembahkan ini cukup diterima sebagai satu penampilan yang bagus atau sebaliknya, kamu memulai dengan petikan gitar akustik mu dan aku memulai menyanyikan satu lagu dari Ten2five yang berjudul “i will fly” , menyenandungkan lagu itu seakan membuatku untuk memutar kembali memory saat kita bersama-sama mengerjakan pekerjaan kepanitiaan kita, saling bertukar pikir apa yang pas untuk penampilan ini dan itu, saling melempar senyum tanpa maksud saat ide muncul dari otak kita masing-masing. Dan aku larut dalam perasaan itu tanpa sadar kalau aku telah memulai satu fase dihidupku.
Didalam kamar alunan musik dari christina pery dengan lagunya yang berjudul “a thousand year” menemaniku melihat foto-foto saat acara kegiatan kesenian berlangsung sampai saat pembubaran, satu yang kucari dari banyaknya foto-foto itu adalah saat malam terakhir pembubaran panitia, saat kamu dan aku bersama-sama menampilkan satu penampilan mewakili bidang kepanitiaan kita, kerjaan ku malam itu adalah memandangi beberapa foto itu menzoom out atau zoom in foto-foto itu sambil senyum-senyum sendiri, aku bahagia tak terkira dan mengambil handphone ku sambil mencari nama di kontak handphone ku dan menekan tanda panggil, malam itu aku bercerita panjang lebar sampai-sampai pipi ku memerah saat aku menceritakan apa yang telah terjadi, aku tak menyangka akan merasakan itu kataku pada sahabatku malam itu, katanya dia pun bahagia tapi dia menyarankan ku untuk tidak membawa perasaan ini terlalu jauh yang hanya buatku kecewa pada ekspektasi yang terlalu tinggi, aku tahu kekhawatirannya. Dia sahabatku sejak SMP teman berbagi cerita, selalu bersama dengannya tak membuatku jenuh,itu karena kami punya banyak petualangan yang telah kami lewati bersama, sifanya hampir sama dengan orang yang kusukai saat ini, dia lebih senang berdiam diri disatu tempat untuk menghabiskan waktu senggangnya dari pada harus ikut dalam satu kumpulan organisasi yang menurutnya akan menunda waktu belajarnya, tapi karena perbedaan itulah yang buatku betah bersamanya hingga saat ini.
Sampai pada saat kamu menyatakan perasaanmu padaku dan memintaku untuk menjalin satu hubungan layaknya dua insan yang bersatu, saat itu hujan turun dan aku berkecamuk dengan segala perasaanku dan kita diam terlalu lama, aku tak menyangka bahwa rasa kagum ku kepadamu selama ini berbuah hasil yang baik, aku yang mengira selama ini perasaanku akan pupus karena sikapmu yang dingin dan tak terlalu peduli meski kita sempat melalui beberapa minggu bersama akhirnya tertawa lepas karena pernyataan mu hari ini, dan tanpa menunggu terlalu lama aku menerima mu, membuka pintu hatiku selebar-lebarnya dan mempersilahkanmu masuk.
Suatu ketika kamu jujur tentang apa yang membebani kamu selama ini, yang membuat kamu menjadi sangat berubah kepadaku setelah apa yang telah kita lalui hampir setengah tahun, dan keputusanmu untuk berpisah membuatku sangat hancur. Pilihanmu jadi beban berat dipundak ku terlebih saat tahu alasan bahwa kamu mencintai orang lain. Aku tak mengerti jika kekuranganku karena tak bisa membahagiakan mu yang membuatmu harus pergi seperti ini. Ini sakit dan sangat sakit bahwa mengingat aku yang terlalu menaruh harapan terlalu tinggi kepadamu, bahwa aku tak pernah memintamu untuk mencintaiku lebih dari aku mencintaimu, dan bahwa kamu tak pernah benar-benar memilihku untuk menjadi orang yang kamu cintai.
Kembali mengingat-ingat semuanya membuatku tak sadar kalau aku tlah menangisinya cukup lama, dan lebih tepatnya menangisi kebodohanku yang terlalu lama untuk mengingatmu. Kembali ku dengar lagu-lagu yang sedari tadi hanya mampu bersenandung tanpa pendengar yang jelas. Lagu-lagu yang buatku selalu mengingat tentang mu. Melihat ada telfon yang masuk di handphone ku, jelas itu nomor baru dan aku cukup mengenal nomor ini, yah ini nomor kamu yang sudah sejak lama kuhapus hanya karena aku berharap bisa dengan mudahnya melupakanmu, ternyata tidak, ternyata sulit. Sejenak ada keraguanku untuk mengangkatnya tapi gerakan tanganku tak mampu berkompromi dan langsung menekan tombol terima, ada halo yang kudengar dari suara yang setahun lalu sering kudengar, suara khas seorang kamu yang tak pernah aku lupa, cukup lama kita bercerita sampai akhirnya aku mengucapkan goodbye.
Senja ini cukup indah untuk aku nikmati di pesisir pantai indah ini. Hanya deru ombak yang bisa kudengar menemaniku saat ini. Kini aku telah sadar akan arti pertemuan hingga harus berpisah, kini akupun sadar bahwa harapanku harus pada kadar yang tepat agar aku tak terlalu jauh untuk jatuh dan merasakan sakit seperti dulu, kini aku sadar bahwa ketika aku belajar untuk mencintai seseorang disaat itu pula aku harus belajar untuk melepaskan seseorang. Bahwa disetiap hello akan selalu ada goodbye setelahnya. Kamu yang telah menjadi kenangan buatku, terimakasih untuk satu pelajaran penting ini. Kini aku mampu melepaskan mu, melepaskan genggamanku dari kisah tentangmu. Aku mencari bahagia yang jelas sekarang, tak lagi semu seperti dulu saat bersama mu. Kini aku mampu menerima mu sebagai seorang pendamping dari dia. Sahabatku. Aku berjalan menuju altar berdampingan dengan sahabat terbaik ku, mengantarkan dia menuju kamu, menuju kekebahagiaan terindah kamu saat ini dan kuharap selamanya bersama dia. S A H A B A T K U.
Dan aku menyaksikan ikrar janji kalian dihadapan Tuhan sangat bahagia,bagaimana tidak, ada seseorang yang menunggu ku disana, tepat didekat Tuhan untuk kutemukan pada waktunya.

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Posting Komentar